Feed Blog

Pondok Pesantren Lirboyo Kediri

Video
Audio
Pesantren
Ziarah
Santri Unggul
Profesional Shaleh
Zakat
Kitab & Buku
Al Qur’an
Banner NSP KH. Miftachul Akhyar
Pesantren Lirboyo Kediri
by Budi 4.107 Views Kamis, 28 Juni, 2018

Pesantren Lirboyo Kediri
Profil
Lirboyo, adalah nama sebuah desa yang digunakan oleh KH Abdul Karim menjadi nama Pondok Pesantren. Terletak di barat Sungai Brantas, di lembah gunung Willis, Kota Kediri. Awal mula berdiri Pondok Pesantren Lirboyo berkaitan erat dengan kepindahan dan menetapnya KH Abdul Karim ke desa Lirboyo tahun 1910 M.

Pondok Pesantren Lirboyo berkembang menjadi pusat studi Islam sejak puluhan tahun sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Bahkan dalam peristiwa-peristiwa kemerdekaan, Pondok Pesantren Lirboyo ikut berperan dalam pergerakan perjuangan dengan mengirimkan santri-santrinya ke medan perang seperti peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.

Sebagai Pusat pendidikan Islam, Pondok Pesantren Lirboyo mencetak generasi bangsa yang cerdas ruhaniyah, juga smart-intelektual, mumpuni dalam keberagaman bidang, juga keberagamaan Islam yang otentik. Pondok Pesantren Lirboyo memadukan antara tradisi yang mampu mengisi kemodernitasan dan terbukti telah melahirkan banyak tokoh-tokoh yang saleh keagamaan, sekaligus saleh sosial.

Riwayat Pengasuh

  1. KH Abdul Karim
  2. KH. Marzuqi dahlan dan KH. Mahrus Aly
  3. KH Idris Marzuki
  4. KH Kafabihi
  5. KH Imam Yahya Mahrus
  6. KH M Anwar Manshur

Pendidikan
Teknis pendidikan di Pondok Pesantren Lirboyo menerapkan 2 sistem pendidikan yang berjalan berdampingan dan padu;

  1. Classical (madrasah/ sekolah) diterapkan sebagai pembelajaran wajib yang disesuai dengan kemampuan masing-masing santri dalam menyerap dan memahami keilmuan yang diberikan.
    a. Madrasah Aliyah
    b. Madrasah Tsanawiyah
    c. Ibtida’iyyah
    d. I’dadiyah
    Bersifat wajib bagi santri-santri dengan mata pelajaran yang telah dibakukan sebagai tingkatan-tingakatan pembelajaran. Di mulai pada pertengahan bulan Syawal sampai pada akhir bulan Rajab di setiap tahunnya. Dengan masa libur 2 kali dalam 1 tahun yakni 10 hari pada bulan Maulid dan 30 hari di bulan Ramadlan.
  2. Tradisional (Pengajian Kitab) berupa pengajian bandongan, sorogan, diskusi/ musyawarah pendalaman masalah teks keagamaan dan bahtsul masail dengan kupas problema keagamanan terkini.Pengajian Kitab sangat dianjurkan sebagai bekal tambahan keilmuan santri. Berlangsung sepanjang tahun di setiap tahunnya dan pada bulan Ramadlan Pesantren Lirboyo selalu mengadakan Pengajian Kilatan.

Fasilitas
Masjid, asrama santri, kantor, asrama pengasuh, dapur, gedung sekolah, lapangan, koperasi santri, perpustakaan, laboratorium komputer, laboratorium bahasa, gudang, kamarmandi/wc, klinik kesehatan.

Ekstrakurikuler

  1. Kajian kitab-kitab kuning (kitab salaf)
  2. Pembinaan Tahfidz dan Tilawatil Al-Qur’an
  3. Latihan berpidato dalam tiga bahasa (Indonesia, Inggris dan Arab)
  4. berbahasa Arab dan Inggris sehari-hari
  5. Diskusi dan Penelitian Ilmiah
  6. Kepramukaan
  7. Pengembangan Olahraga
  8. Pengembangan Seni Drumband, Qashidah dan Marawis
  9. Pengembangan Seni Beladiri
  10. Tahfidhul Qur’an
  11. Pengembangan jurnalistik dan publisistik
  12. Pengembangan Exacta (Lab Skill), Ketrampilan, Wirausaha
    Keorganisasian
    IPNU/IPPNU
    Alamat Pondok Pesantren Lirboyo
    Jl. KH. Abdul Karim RT. 02 / RW. 01, Lirboyo, Mojoroto, Kediri
    Telepon : +62 354 773608

Profil Pondok Pesantren Bahrul ulum Tambakberas Jombang

LOKASI DAN SEJARAH PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM
Lokasi
Pondok Pesantren Bahrul UlumTambakberas Jombang, terletak di Dusun Tambakberas, Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Propinsi Jawa Timur, tepatnya ± 3 km sebelah utara kota Jombang. Pondok Pesantren Bahrul UlumTambakberas Jombang, secara keseluruhan menempati areal tanah ± 10 Ha, dengan sosio kultur religious agraris.

Sejarah Pondok Pesantren Bahrul Ulum
Periode Rintisan

Periode Rintisan Pertama (Pondok Selawe / Pondok Telu 1825 M)

Sekitar tahun 1825 di sebuah desa yang jauh dari keramaian kota Jombang, tepatnya di sebelah utara kota Jombang, di Dusun Gedang kelurahan Tambakrejo, datanglah seorang yang ‘alim, pendekar ulama atau ulama pendekar, bernama Abdus Salam namun lebih dikenal dengan panggilan Mbah Shoichah (bentakan yang membuat orang gemetar).Kedatangannya di dusun ini membawa misi untuk menyebarkan agama dan ilmu yang dimilikinya.Menurut silsilah, beliau termasuk keturunan Raja Brawijaya (kerajaan Majapahit).Abdus Salam putra Abdul Jabbar putra Abdul Halim (Pangeran Benowo) putra Abdurrohman (Jaka Tingkir).

Kedatangan Abdus Salam di desa yang semula masih hutan belantara, kurang lebih 13 tahun dia bergelut dengan semak belukar dan kemudian dijadikan perkampungan yang dihuni oleh komunitas manusia. Setelah berhasil merubah hutan menjadi perkampungan, mulailah ia membuat gubuk tempat ia berdakwah yaitu sebuah pesantren kecil yang terdiri dari sebuah langgar, bilik kecil untuk santri dan tempat tinggal yang sederhana. Pondok pesantren tersebut dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Pondok Selawe atau Telu, dikarenakan jumlah santri yang berjumlah 25 orang dan jumlah bangunan yang hanya terdiri 3 lokal beserta mushollanya. Hal ini terjadi pada tahun 1838 M, kondisi tersebut adalah cikal bakal Pondok Pesantren Bahrul Ulum.

Sementara itu menurut versi yang lain istilah 3 (telu) adalah merupakan representasi dari PondokSelawe atau Pondok Telu yang mengembangkan ilmu-ilmu syari’at, hakikat dan kanuragan. Hal itu didasarkan pada manifestasi keilmuan Mbah Shoichah sendiri yang mencakup ketiganya.

Periode Rintisan kedua

Setelah Kyai Shoichah (Abdussalam) berusia lanjut (sepuh: bahasa Jawa), tampuk pimpinan Pondok Selawe atau Pondok Teludiserahkan kepada dua menantunya yang tidak lain adalah santrinya sendiri. Kedua menantunya tersebut adalah Kyai Ustman dan Kyai Sa’id. Dengan mendapat restu dari mertuanya Kyai Ustman dan Kyai Sa’id menjadikan pondok menjadi dua cabang. Hal ini dikarenakan jumlah santri yang semakin bertambah banyak.Kyai Ustman mengembangkan pondok di Dusun Gedang yang tidak jauh dari pesantren ayah mertuanya yaitu di sebelah Timur sungai pondok pesantren, sedangkan Kyai Sa’id mengembangkan pesantren di sebelah barat sungai.

Dalam penataan manajemen pendidikan pesantren yang diasuhnya, Kyai Ustman lebih berkonsentrasi mengajarkan ilmu-ilmu Thoriqot atau Tasawuf, sedangkan Kyai Sa’id mengajarkan ilmu-ilmu Syari’at.

Periode Pengembangan

Periode Pengembangan Pertama

Setelah Kyai Ustman dan Kyai Sa’id wafat, yang meneruskan tampuk pimpinan pesantren adalah Kyai Hasbulloh, putra Kyai Sa’id.Sedangkan pesantren Kyai Ustman tidak ada yang meneruskan karena beliau tidak mempunyai putra laki-laki.Akhirnya sebagian santri Kyai Ustman diboyong oleh menantunya yang bernama Kyai Asy’ari ke Desa Keras yang akhirnya berkembang menjadi pondok pesantren Tebuireng sekarang. Sedangkan sebagian yang lain diboyong ke pesantren sebelah Barat sungai dijadikan satu dibawah pimpinan Kyai Hasbulloh.

Kyai Hasbulloh adalah seorang yang kaya raya dan dermawan, beliau memiliki tanah pertanian yang sangat luas.Dari hasil pertanian ini beliau banyak memiliki gudang-gudang beras yang menyebar dimana-mana bagaikan tambak.Konon karena hal itu daerah ini disebut Dusun Tambakberas dan pondok pesantren beliau dikenal dengan sebutan Pondok Tambakberas.

Dibawah pimpinan Kyai Hasbulloh pondok pesantren berkembang sangat pesat, dan guna kelanjutan pondok pesantren yang diasuhnya Kyai Hasbulloh banyak mengirimkan putra-putrinya untuk belajar di pesantren, bahkan putra beliau yang tertua Abdul Wahab, dikirim ke Makkah untuk menuntut ilmu.

Periode Pengembangan Kedua (1914)

Pada tahun 1914 Kyai Abdul Wahab(Putra tertua Kyai Hasbulloh)kembali dari tugas belajarnya di tanah suci Makkah.Sejak saat itu Kyai Abdul Wahab mulai melakukan pembaharuan pondok pesantren Tambakberas.Beliau mengubah sistem pendidikan halaqoh menjadi sistem pendidikan madrasah.Dengan sistem pendidikan madrasah yang dikembangkan, Pondok Pesantren Tambakberasberkembang semakin pesat, dan pada tahun 1915 Kyai Abdul Wahab mendirikan madrasah yang pertama (terletak disebelah barat masjid, sekarang dibangun gedung Yayasan PPBU).Madrasah tersebut diberi namaMadrasah Mubdil Fan.

Pada tahun 1920 Kyai Hasbulloh wafat.Maka pesantren ini dilanjutkan oleh Kyai Abdul Wahab, dengan dibantu oleh kedua adiknya yaitu Kyai Abdul HamiddanKyai Abdurrohimyang juga baru kembali dari studinya di tanah suci Makkah.Dalam penataan manajemen pengelolaannya, Kyai Abdul Hamid lebih berkonsentrasi terhadap pengelolaan pondok, sedangkan Kyai Abdurrohim bertanggungjawabmengelola madrasah.Kyai Abdul Wahab lebih banyak berkiprah dikancah organisasi sosial kemasyarakatan. Salah satu organisasi yang didirikannya adalah kelompok diskusi yang diberi namaTasywirul Afkar yang berpusat di Surabaya pada waktu itu. Dan pada tahun 1926 beliau mendirikan organisasi yang diberi namaNahdlatul Wathon dan pada akhirnya berganti nama menjadi Nahdlatul Ulamayang berkembang sampai sekarang.

Periode Pengembangan Ketiga

Pada tahun 1942 Kyai Abdul Hamid dan Kyai Abdurrohim memanggil keponakannya yang bernama Kyai Abdul Fattah menantu Kyai Bisri Syansuri Denanyar.Sebagai upaya regenerasi, pengelolaan madrasah diserahkan kepada Kyai Abdul Fattah.

Pada tahun 1943 Kyai Abdurrahim wafat, tugas-tugas beliau diteruskan oleh Kyai Abdul Fattah.Dibawah pimpinan Kyai Abdul Fattah, madrasah berkembang lebih baik lagi.Mengingat semakin bertambahnya jumlah santri, Kyai Abdul Fattah mendirikan gedung madrasah di dekat rumahnya yang kemudian oleh Kyai Abdul Wahab, madrasah tersebut diberi namaMadrasah Ibtida’iyyah Islamiyyah (MII) dan kemudian berganti nama Madrasah Ibtida’iyyah (MI). Pada tahun 1944/1945, lahirtlah Madrasah putri yang pertama yang diprakarsai oleh Ny.Hj.R.Mas Wardiyah ( istri K.Abdurrohim).Disamping itu pada tahun 1951 Kyai Abdul Fattah dengan restu Kyai Abdul Wahab, mendirikan pondok pesantren putri Al-Fathimiyyah, serta pada tahun 1956 mendirikan Madrasah Mu’allimin Mu’allimat 4 Tahun.

Pada tanggal 06 Juni 1956 Kyai Abdul Hamid wafat, maka pengelolaanPondok Pesantren Tambakberas dilanjutkan oleh Kyai Abdul Fattah, sedangkan urusan madrasah diserahkan sepenuhnya kepada Kyai Al-Fatih putra sulung Kyai Abdurrohim. Dibawah pimpinan Kyai Al-Fatih madrasah berkembang semakin pesat, hingga pada tahun 1964, Madrasah Mu’allimin Mu’allimat 4 Tahun ditambah masa studinya menjadi 6 Tahun dan berubah nama menjadi Madrasah Mu’llimin Mu’allimat Atas.

Pada tahun 1965 Kyai Abdul Wahab memberi nama pondokpesantren ini dengan nama Pondok Pesantren Bahrul Ulum. Pada tanggal 29 Desember 1971/ 11 Dzulqo’dah 1391 H. Kyai Abdul Wahab pulang ke rahmatulloh. Pimpinan Pondok Pesantren Bahrul Ulum diteruskan sepenuhnya oleh Kyai Abdul Fattah dengan dibantu oleh para dzurriyah Bani Hasbulloh yang lain.

Pada tahun 1974 Kyai Abdul Fattah mulai merintis Perguruan Tinggi yang diberi namaAl-Ma’had Al-Aly. Pada tahun 1977 Kyai Abdul Fattah wafat.Setelah Kyai Abdul Fattah wafat, tampuk pimpinan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, dilanjutkan oleh KH. M. Najib Abd. Wahab,L.MLputra ke tiga Kyai Abdul Wahab. KH. M. Najib Abd. Wahab, L.ML memiliki reputasi cemerlang dalam membawa lembaga Pondok Pesantren Bahrul Ulum pada pentas nasional selain pernah menjabat sebagai Ro’is Syuriah PBNU.Pada tahun 1985 beliau bersama pengasuh yang lain juga menghidupkan Al-Ma’had Al-Aly menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) dengan menunjuk Drs. KH. Moh. Syamsul Huda As, SH.,M.HI sebagai ketua. Dalam kapasitas sebagai ketua Robithotul Ma’ahid (Asosiasi Pondok Pesantren Nahdlatul Ulama), KH. M. Najib Abd. Wahab.L.ML menyelenggarakan Usbu’ul Ma’ahid (Pekan Pesantren se-JawaTimur), Pondok Induk melalui jalur formal pengurus, juga melalui ro’is khos (ketua komplek), mengamanatkan kepengurusan masjid kepada KH.Moh.Sholeh Abd.Hamid sebagai ketua ta’mirnya, menyelenggarakan pengajian sentral tiap Senin malam Selasa.Hingga pada tahun 1987 KH. M. Najib Abd. Wahab, L.ML pulang ke rahmatulloh.Sejak saat itu Pondok Pesantren Bahrul Ulum diasuh dengan menggunakan sistem kepemimpinan kolektif.

Periode Pengembangan Ke-4 (Kepemimpinan Kolektif )

Seiring dengan perkembangan Pondok Pesantren Bahrul Ulum yang semakin pesat dari tahun ke tahun, baik jumlah santri maupun lembaga-lembaga pendidikan formal yang ada di dalamnya, maka untuk memaksimalkan potensi yang sudah ada diperlukan suatu manajemen kepemimpinan pondok pesantren yang konstruktif, jelas, terprogram dan terarah. Berangkat dari ide dasar itulah maka kemudian lahir pemikiran untuk membagi manajemen kepemimpinan pondok pesantren menjadi ;

Majelis Pengasuh, yang berfungsi sebagai lembaga legislatif yang memiliki otoritas atau pemegang kebijakan tertinggi.
Pengurus Yayasan, yang berfungsi sebagai eksekutif yang menjalankan semua program pengembangan dan pemberdayaan pendidikan semua lembaga pendidikan yang berada dibawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum.
Dewan Pengawas, yang berfungsi sebagai yudikatif, yaitu mengawasi, memberikan pertimbangan kepada pengurus yayasan dan memberikan masukan kepada majelis pengasuh. Dibentuknya dewan pengawas dalam struktur manajemen Pondok Pesantren Bahrul Ulum sejak tahun 2002, adalah sebagai konsekuensi diberlakukannya Undang-undang RI. No. 16 Tahun 2001 tentang yayasan.
Hingga saat ini, sejak kepemimpinan kolektif diterapkan, sudah mengalami dua periode kepemimpinan majelis pengasuh

(Almaghfurlah) KH.M. Sholeh Abdul Hamid, 1987 – 2006
Pada masa kepemimpinan beliau, jabatan Ketua Umum Yayasan PPBU telah mengalami beberapa kali pergantian, yaitu KH. Ahmad al-Fatich Abdur Rohim 1990 – 1994, Drs. KH.M. Hasib Abdul Wahab 1994 – 1998, Drs. KH. Fadhlulloh Abd. Malik 1998 – 2002, KH. Taufiqurrohman Fattah mulai tahun 2002 sampai sekarang. (beliau menjadi Ketua Umum selama dua periode 2002 – 2006 dan 2006 – 2009).

Pada saat ketua umum yayasan dijabat oleh KH.Ach. Taufiqurrohman Fattah, kemudian dimunculkan Peran Yudikatif (Dewan Pengawas) sebagai konsekuensi diberlakukannya Undang-Undang No 16 tahun 2001 tentang Yayasan, dan sebagai ketuanya adalah Ny.Hj. Mundjidah Wahab dan ketika periode 2006-2009 Dewan Pengawas terdiri dari KH. Fathulloh Abd. Malik, Drs. H.M. Faruq Zawawi M.Ag.,Ny. Hj. Salmah Nasir dan Edi Labib Patriadin.

(Almaghfurlah) Drs. KH. Amanulloh Abdur Rochim 2007-2008
Ketika KH. Muhammad Sholeh Abd.Hamid wafat pada senin malam selasa tanggal 16 Syawal 1427 / 7 November 2006 tampuk pimpinan Majelis Pengasuh dipegang oleh alm.KH.Amanulloh AR. Sedangkan ketua umum yayasan masih dijabat oleh KH.Ach. Taufikurrohman Fattah. Beberapa kebijakan penting yang diambil pada saat KH. Amanulloh AR menjadi ketua majlis adalah diselenggarakannya Pertemuan Alumni Bahrul Ulum tingkat Nasional yang akhirnya membentuk suatu ikatan wadah alumni yang berrnama Ikatan Alumni Bahrul Ulum atau yang disingkat dengan nama IKABU. Selain itu, untuk terus mengharumkan kembali nama Pondok Pesantren Bahrul Ulum di bumi nusantara beliau juga mengadakan Pertemuan Ulama dan Umara se Jawa dan Madura. Satu program besar lain yang digagas oleh beliau adalah pembangunan gedung serba guna yang direncanakan berfungsi sebagai balai pertemuan maupun sarana olah raga santri santri Bahrul Ulum. Namun sebelum pembangunan itu sempat terealisir, beliau sudah dipanggil oleh Allah pada 13 November 2007 pada usia 65 tahun, satu tahun persis setelah meninggalnya KH.M. Sholeh Abd.Hamid. Sejak KH. Amanulloh wafat, jabatan ketua majelis pengasuh – sesuai dengan kebijakan yang diambil semua anggota majelis pengasuh – dikosongkan untuk sementara waktu sampai berakhirnya kepengurusan tahun 2009 nanti.Dan untuk menjalankan roda organisasi di Majelis Pengasuh – sesuai dengan mekanisme dan job yang telah ditetapkan – maka untuk pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan lembaga pondok pesantren dipegang oleh KH.Abd.Nashir Abd. Fattah, sedangkan yang berkaitan dengan lembaga pendidikan formal dan hubungan dengan lembaga di luar PPBU dipegang oleh Drs.KH.M. Hasib Wahab, dan sebagai katibnya adalah KH. M. Irfan Sholeh. Adapun anggota majelis pengasuh sebagai berikut : Nyai Hj. Musyarrofah Fattah, Nyai Hj. Machfudhoh, Nyai Hj. Munjidah, Nyai Hj. Churun Ain Malik, Nyai Hj. Chafsoh, Nyai Hj. Zubaidah, Nyai Hj. Muchtaroh, Nyai Hj. Nurfiatin, KH. Ach.Djamaluddin.

Periode Pengembangan Tahun 2009

Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, sampai dengan tahun 2014 ini sudah berusia 189 tahun, sedangkan madrasahnya berusia 99 tahun. Diusianya yang jauh melebihi kemerdekaan bangsa ini Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, telah berkembang pesat dengan beragam jenis dan jenjang pendidikan. Hingga saat ini Pondok Pesantren Bahrul Ulum memiliki 34 unit asrama pondok pesantren dan 18 unit pendidikan formal dari tingkat Pra Sekolah sampai dengan Perguruan Tinggi, dengan jumlah santri unit pendidikan formal pernah mencapai 7000 orang, yang berasal dari berbagai daerah di penjuru tanah air. Selanjutnya mulai tahun itu pula (2009) melalui MUBES (Musyawarah Besar) Bani KH.Hasbullah Said, yang merupakan forum tertinggi Yayasan PP. Bahrul ‘Ulum disepakatilah estafet kepemimpinan PP. Bahrul ‘Ulum (sepeninggal KH.Amanulloh selaku Ketua Majelis Pengasuh sebelumnya dan KH.Ach.Taufiqurrohman sebagai ketua Yayasan) melalui perudingan dan musyawarah hingga dini hari maka disepakatilah KH.Hasib Wahab sebagai Ketua Majelis Pengasuh Pond.Pest. Bahrul ‘Ulum, KH. M. Irfan Sholeh sebagai Ketua Umum Yayasan Pond.Pest.Bahrul ‘Ulum dan Ny.Hj. Hizbiyyah sebagai Ketua Umum Yayasan Universitas Bahrul Ulum untuk masa khidmat 2009-2013. Adapun nama-nama anggota Majelis Pengasuh sebagai berikut : KH. Nashir Fattah (Wakil Ketua), KH. M. Fadhlullah Malik (Wakil Ketua), KH. M. Djamaluddin Ahmad, KH. M. Sulton A. Hadi, Ny. Hj. Machfudhoh Ali Ubaid, Ny. Hj. Mundjidah Wahab, Ny. Hj. Churun Ain Malik, Ny. Hj. Chafsoh Yahya, Ny. Hj. Muchtaroh, Ny. Hj. Zubaidah dan H. M. Soahul Am NB sebagai Katib. (Thoel@2017)

Pasar Murah Pesantren Menyatukan Keberagaman Masyarakat dan Santri

Solo – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menggandeng pondok pesantren (ponpes) untuk meggelar pasar murah. Ada 300 ponpes di seluruh Indonesia yang menjadi mitra Kemendag.

Salah satu mitra Kemendag ialah Ponpes Al-Muayyad di Mangkuyudan, Purwosari, Laweyan, Solo. Perwakilan dari Al-Muayyad, Muhammad Aminuddin, mengatakan pasar murah kali berbeda dari biasanya.

“Seluruh hasil penjualan akan diserahkan ke pondok agar digunakan untuk kepentingan santri dan umat. Kalau dari sisi masyarakat saya tanya, mereka senang sekali dan merasa terbantu,” ungkapnya.

Dia menambahkan, pasar murah dapat merekatkan hubungan sesama muslim, bahkan antarumat beragama. Pasalnya, pasar murah dibuka untuk umum. Semua lapisan masyarakat bisa memperolehnya.

“Harapannya pasar murah bisa merekatkan persatuan. Ini tidak hanya untuk muslim saja, tapi juga nonmuslim. Untuk membantu masyarakat jangan pilih-pilih,” ujarnya.

Pasar murah di Al-Muayyad digelar Kamis sejak sore. Sedangkan penyerahan hasil pasar murah dilakukan malam harinya oleh Staf Khusus Menteri Perdagangan Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Peningkatan Sarana Perdagangan, Eva Yuliana kepada perwakilan ponpes.

Eva menyampaikan pihaknya menyerahkan 1.000 paket sembako ke ponpes Al-Muayyad untuk didistribusikan ke masyarakat. Satu paket bernilai Rp 110 ribu, namun dijual seharga Rp 50 ribu.

“Dengan seperti ini, pasar murah menjadi punya nilai tambah. Ada nilai sedekahnya. Nanti hasilnya boleh dipakai untuk kebutuhan pesantren. Sarana pendidikan itu kan banyak, ada sarana fisik dan ada sarana non fisik,” tandasnya. 

balai kota solokeraton soloponpes al-muayyad solo

Mengupas Keberagaman dari Pesantren

Pesantren identik dengan kegiatan rutin. Mulai belajar alquran, mengaji dan belajar tafsir-tafsir kitab. Namun untuk pesantren Al-Mizan, ternyata santri tidak hanya belajar mengenai religiusitas. Tapi persoalan hidup bersama dengan komunitas lain, termasuk agama lain juga perlu diperkenalkan sejak dini. Maraknya radikalisasi yang meracuni anak-anak muda, telah menjadi fokus utama pendidikan pesantren yang berada di Ciboneng, Majalengka. Diantara pintu-pintu pesantren yang terbuka, setiap orang bisa leluasa berkunjung dan bertemu. Bahkan beberapa saat lalu kunjungan dari lintas agama. Mereka baru saja menyelanggarakan 3 hari pelatihan Pendidikan Seni Nusantara PSN. Seluruh peserta tim dari Tarutung beragama Kristen dan dipimpin oleh pendeta. Mereka berbaur dengan para santri. Mika Sitohang, salah satu siswa dari Tarutung yang ikut dalam pelatihan. Kali pertama mengetahui harus mengikuti pelatihan di sebuah pesantren, Mika  terkejut.

Pentas Lagu Batak“Pertama kayak bagaimana gitu, gimana nanti ya. Soalnya bergaul sama Muslim kan jarang, di Tarutung, masih jarang yang Muslim. Jadi itu penasaran kali, bagaimana cara bergaul dengan orang ini. Tapi setelah sampai di sini, kami salut, mereka juga baik, dan kalau ketemu di jalan pasti disapa.” Pendeta dari wilayah Cirebon juga sudah terbiasa melintasi pintu pesntren, bersapa dengan para santri yang berkerudung. Kemduan berbaur dalam keramahan bersama. Semuanya berjalan seperti biasa, tidak ada kecanggungan dari santri dan penghuni pesantren. Menurut Maman Imanulhaq, situasi seperti ini diciptakan untuk saling mengenal, mengikis curiga dan mengenalkan perbedaan sejak dini. “Para santri harus mengenal mereka yang berbeda keyakinan karena mereka juga bagian dari Indonesia”. Kata Maman. “Iya, misalnya misalnya saya memiliki pengajian Akar Jati, kalau mau ngomong tentang cerita Yesus misalnya biarkan pendeta itu yang ngobrol. Dan itu penting. Karena saya juga ngomong tentang tentang tradisi-tradisi Jawa dengan gereja di Jawa.” Kata Maman, siswa atau santrinya juga pernah mendapat pengajar beragama Budha untuk pelajaran bahasa Mandarin. Beberapa pendeta juga akan mengajari para santri tentang manajemen pertanian. Salah satu tamu siang itu Andreas Budi Hartono, jemaat GKI Rahmani Cirebon. Menuturkan “Saya mengucap syukur sekali, sebelum saya mengenal Al Mizan ini, pandangan saya itu, namanya pondok pesantren, terdiri santri-santri yang kita tidak bisa masuk, apalagi secara kekeluargaan seperti ini. Baru pertama kali saya ke sini, luar biasa sungguh Tuhan membekati pesantren ini.“ Klenteng Hok Teng Jeng Sin di Majalengka juga menjalin kerjasama dengan Al Mizan menyebarkan toleransi pluraslisme dan keberagaman, dan tentu saja kemanusian dan lingkungan. Pengurus Kelenteng Saleh Sugiyo, “Sangat silaturahmi di sini, walaupun berbeda agama, kelenteng vihara dan gereja sering datang. Ulang tahun klenteng diundang gereja diundang. Doa malam tahun baru Imlek, Al Mizan diundang dan datang.” Maman menegaskan bahwa pemahaman tentang toleransi beragama dan antar sesama, menjadi salah satu pelajaran utama untuk para santri di pesantren ini. Tetapi banyak tentangan yang dihadapi pesantren saat mengembangkan prinsip-prinsip toleransi ini. “Kita tidak akan melawan dengan cara-cara seperti yang mereka lakukan tetapi lebih menekankan prinsip-prinsip silaturahmi. Lalu silatul fikri, beradu gagasan diskusi dan sebagainya, ada yang menerima, ada yang tidak. Yang terakhir yang menarik, bagaimana gagasan tadi kita kita buktikan lewat kerja-kerja nyata, misalnya pengobatan gratis di pesantren yang menolak kita. Acara bakti sosial lintas iman, di pemukiman yang tidak suka sama kita. Lama kelamaan mereka tahu yang kita lakukan berdampak positif.“ Belajar budaya beragam suku merupakan salah satu cara memahami keberagaman. Hari itu para santri belajar tentang aksara batak. Pengajar di pesantren Ade Duriawan mengatakan, pemahaman toleransi dan keberagaman disampaikan secara bertahap dan alamiah. “Kalau sehari-hari kita memperkenalkan mereka misalnya ketika ada yang datang dari lintas agama. Itu secara tidak langsung membiasakan kepada mereka. Terus terang ini proses, bukan doktrin ke mereka, biarkan mereka tumbuh karena kesadaran. Biarkan mereka melihat realitas.” Direktur Fahmina, sebuah lembaga lokal pemerhati demokrasi, Marzuki Wahid, mengatakan pesantren Al Mizan mampu mengakomodir tradisi-tradisi baru yang dibutuhkan untuk menjaga kerukunan dan melawan radikalisme. “Al Mizan bukan sekadar memelihara tradisi lama, klasik yang baik, tapi  mengambil tradisi baru yang lebih baik seperti demokrasi, pluralisme, HAM, gender, dan segala wacana lain yang hadir pada hari ini diambil oleh Al Mizan. Starting poin yang bagus. Dan soal pengembangan butuh waktu, karena membangun peradaban yang besar apalagi dimulai dari pesantren tidak bisa dengan cara yang instan.”Kata Maman Cara-cara Al Mizan membuka diri terus menumbuhkan daya tarik berbagai pihak untuk memahami Islam yang sesungguhnya, Islam sebagai agama toleran. Gereja-gereja di wilayah Cirebon misalnya sudah menyiapkan kader-kader mudanya untuk menimba ilmu dan menggelar diskusi di Al Mizan. Program ini menurut salah satu pendeta GKI Rahmani Cirebon, Sutanto Tedi, efektif menghapus kecurigaan-kecurigaan dan persepsi yang salah antar agama. “Pemuda-pemuda dan remaja, akan live-in di sana, kita akan berdiskusi dengan para santri di Al Mizan, tujuannya membuka pemahaman. Kita bisa berkerjasama bukan pada soal agama, seperti Kang Maman bilang jadilah Muslim yang taat, orang Kristen yang taat. Tapi ketika bersama kita berbicara soal kemanusian.” Semakin malam, acara perpisahan antara tim kesenian dari Tarutung Tapanuli Utara dan para santri makin meriah. Para santri mempersembahkan atraksi beladiri Bastok atau Barisan Takut Alloh dan tari Serampang Dua Belas. Para tamu, tak mau ketinggalan, sebuah persembahan khas Batak, tari pergaulan Tor-Tor  ditampilkan. Para santri berhambur ke tengah lapang, turut berlengak-lenggok mengikuti musik dinamis dari tanah Batak. Salam dan Sholawat Nabi saat menutup acara, tak hanya dituturkan para santri. Anak-anak Tarutung berusaha mengikuti meski terbata dan tak jelas. Di Pesantren Al Mizan, malam itu, budaya Sunda dan Batak, para santri Muslim dan penganut Nasrani, menyatu menyampaikan salam damai, untuk semua umat. Al-Mizan terus berproses seiring waktu. Anak-anak tumbuh dewasa dan akan kembali kepada keluarga dan masyarakat. Semoga pendidikan yang mereka peroleh di pesantren tetap melekat di dalam jiwa mereka, membawa benih-benih kedamaian di setiap langkah

Pendidikan Khas Pesantren

Saat ini kita berada pada era global. Arus globalisasi –tentunya- membawa dampak terhadap pembangunan karakter bangsa dan masyarakatnya. Globalisasi memunculkan pergeseran nilai. Nilai lama semakin meredup, yang digeser dengan nilai-nilai baru yang belum tentu pas dengan nilai-nilai kehidupan di masyarakat. <Sudah tidak diragukan lagi bahwa pesantren memiliki kontribusi nyata dalam pembangunan pendidikan. Apalagi dilihat secara historis, pesantren memiliki pengalaman yang luar biasa dalam membina dan mengembangkan (karakter) masyarakat. Bahkan, pesantren mampu meningkatkan perannya secara mandiri dengan menggali potensi yang dimiliki masyarakat di sekelilingnya.  Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang khas. Kegiatannya terangkum dalam “Tri Dharma Pesantren” yaitu: 1) Keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt; 2) Pengembangan keilmuan yang bermanfaat; dan 3) Pengabdian kepada agama, masyarakat, dan negara. Dalam pengantarnya di buku ini, Siradj (2014:xi) menegaskan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan yang genuin dan tertua di Indonesia. Eksistensinya sudah teruji oleh zaman, sehingga sampai saat ini masih survive dengan berbagai macam dinamikanya.  Alhasil, pesantren memiliki posisi strategis untuk turut mengawal pengembangan pendidikan karakter. Pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia dalam praktik kehidupan dalam masyarakat. Dalam proses pendidikan, internalisasi nilai-nilai budaya dan karakter merupakan salah satu upaya untuk mencegah terjadinya degradasi etika dan moral di kalangan remaja.  Perlu disadari bahwa kemajuan suatu bangsa akan tergantung bagaimana karakter orang-orangnya, kemampuan inteligensinya, keunggulan berpikir warganya, sinergi para pemimpinnya, dan lain sebagainya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah penting dalam membangun moral dan kepribadian bangsa. Pendidikan karakter seyogyanya ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila.  Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang holistik integratif. Internalisasi pendidikan karakter di pesantren ditekankan untuk menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif) tentang mana yang benar dan salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya (psikomotor).  Buku ini hadir dalam rangka turut berkontribusi dalam pengembangan pendidikan karakter. Buku ini menggambarkan dengan tepat nilai-nilai luhur yang diajarkan, dipraktikkan, dan dihidupkan di pesantren dengan basis keteladanan para kiai/nyai dan doktrin kitab kuning yang telah membentuk karakter para santri. Terbitnya buku ini merupakan sumbangsih nyata untuk mewujudkan insan kamil yang berkarakter. Sangat inspiratif.

  • Data buku Judul : Pendidikan Karakter Berbasis Tradisi Pesantren Penulis : Lanny Octavia, dkk Kata Pengantar : KH. Said Aqil Siradj Penerbit : Renebook Jakarta Cetakan : I, Februari 2014 Tebal : xviii + 290 hlm ISBN : 978-602-1201-06-0 Peresensi : Abdul Halim Fathani, pemerhati Pendidikan, tinggal di Kota Malang

Penguat Pendidikan Karakter di Pesantren

Anton Prasetyo Pendidik,Alumnus Pondok Pesantren Nurul Ummah Yogyakarta | Opini

MI/Duta

TERBITNYA Perpres No 87/2017 menjadi bukti betapa pendidikan karakter di negeri ini perlu mendapatkan perhatian penuh.

Pasalnya, kesejahteraan bangsa ini (ternyata) tak cukup dipimpin dan dihuni orang-orang pintar saja, tetapi juga lengkap dengan karakter positif.

Karakter, menurut Lickona, berkaitan dengan konsep moral (-moral knowing), sikap moral (moral feeling), dan perilaku moral (moral behavior).

Artinya, orang yang memiliki karakter positif (baik) mesti memiliki pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan kebaikan.

Pendidikan formal yang selama ini diikuti hampir setiap generasi muda menjadi wadah sangat baik untuk menanamkan moral knowing.

Dengan mengikuti pendidikan formal, generasi muda kita dapat mengetahui dan mampu membedakan antara perbuatan positif dan negatif.

Kendati demikian, pengetahuan yang bersifat kognitif ini belum mampu menghantarkan mereka memiliki moral feeling dan moral behavior.

Tumbuhnya motivasi berbuat baik sehingga para murid bisa melaksanakannya tak cukup dengan pengetahuan tentang kebaikan bersifat kognitif.

Mereka memerlukan teladan nyata orang-orang sekitarnya, terutama dari figur otoritas. Karena itu, sangat relevan di setiap zaman adanya adagium ‘satu teladan lebih baik daripada seribu nasihat’.

Ajakan berbuat baik dengan memberi teladan telah dibuktikan Nabi Muhammad SAW saat mengajak umat muslim mengerjakan salat.

Saat itu, ia berkata, “Shalu kama raaitumuni ushalli (salatlah kalian sebagaimana aku melaksanakan salat).”

Kalimat ajakan itu tidak saja mengajarkan teori melaksanakan salat, tetapi teladan nyata yang setiap waktu dilakukan di masjid.

Alhasil, umat muslim yang taat menjadi termotivasi mengerjakan salat sebagaimana yang dilakukan Nabi Muhammad.

Permasalahan di lembaga pendidikan formal selama ini ialah minimnya keteladanan berbuat baik sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW itu.

Justru, sekolah hanya mengajarkan teori tanpa banyak memberikan teladan.

Permasalahan itu tak kunjung diperbaiki karena tidak semua guru memiliki kemampuan memberikan teladan baik.

Bahkan, selain guru agama ataupun kewarganegaraan, banyak di antara mereka abai terhadap karakter para murid.

Gagasan penguatan pendidikan karakter (positif) bagi para murid terasa berat manakala hanya dibebankan kepada pendidikan formal karena fokus pada transformasi ilmu pengetahuan, pendidikan formal lebih banyak berperan pada upaya pembekalan moral knowing kepada siswa.

Sementara itu, moral feeling dan moral behavior lebih tepat diajarkan di lembaga pendidikan informal dan nonformal.

Itu bisa terjadi karena para murid lebih banyak meniru karakter keluarga serta lingkungannya di sela-sela menjalankan pendidikan formal.

Bagi para orangtua yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk memberi motivasi kepada anak-anak untuk berbuat kebaikan, mereka dapat mendidik anak di lingkungan keluarga.

Di sinilah pendidikan informal memiliki peran penting mempraktikkan pendidikan karakter (positif) yang telah diajarkan di sekolah formal.

Di samping itu, mereka juga bisa memberikan pengetahuan tambahan tentang karakter yang tidak diajarkan di sekolah formal.

Mereka bisa mencontoh ajakan Nabi Muhammad SAW dalam hal salat. Orangtua mengerjakan kebaikan sehingga anak-anak mengetahui dan termotivasi menirunya.

Ketika orangtua memberikan motivasi sehingga anak-anak mereka mau mengerjakan kebaikan dan menjadi kepribadian, pendidikan informal seperti itu sangat dianjurkan.

Namun, kita tidak bisa menutup mata bahwa pendidikan karakter di lembaga pendidikan informal tidak semudah membalikkan telapak tangan. Begitu banyak tantangan.

Semua orang mengamini bahwa selepas sekolah formal, mayoritas orangtua siswa tidak mampu mengawasi anak-anaknya dalam bergaul.

Para orangtua memiliki kesibukan berkarier serta bisnis.

Jika mereka memaksakan diri mementingkan mendidik anak-anak, perekonomian keluarga akan hancur.

Itu menjadi masalah baru lagi.

Bermula dari sinilah, pendidikan nonformal bisa menjadi alternatif utama pendidikan karakter anak-anak bangsa.

Satu di antara pendidikan nonformal yang sangat memperhatikan pendidikan karakter ialah pondok pesantren (ponpes).

Bahkan, ponpes tidak saja memberi teladan sehingga anak-anak termotivasi memiliki karakter positif, tetapi pesantren juga memiliki konsep moral sebagaimana di sekolah formal.

Konsep itu tidak bertentangan dengan yang diajarkan di sekolah formal, bahkan saling menguatkan.

Dalam tataran konsep, ponpes memiliki beragam kitab akhlak dan tasawuf.

Bahkan, hampir di setiap ponpes (berhaluan ahlussunah waljamaah) selalu mengajarkan kitab Ta’limul ‘Alim wal Mutaalim.

Kitab ini berisi pendidikan karakter bagi seorang pengajar dan pencari ilmu.

Kitab ini sangat pas diajarkan di kalangan generasi muda karena tidak hanya membahas karakter murid, tetapi juga guru.

Dalam tinjauan psikologis, para murid akan lebih nyaman mendapat pendidikan karakter tanpa harus menjadi objek selamanya.

Dalam ‘pengajaran’ moral feeling dan moral behavior, pesantren memiliki sosok figur otoritas.

Ia ialah kiai yang memiliki karakter mulia di sisi Tuhan dan manusia.

Segala apa yang dikerjakan akan ditiru seluruh murid (santri).

Meski di kalangan ponpes kental dengan dasar pelaksanaan segala aktivitas, untuk meniru perilaku kiai tidak memerlukan semuanya.

Hampir seluruh santri di ponpes meyakini kiainya ialah sosok yang selalu berbuat baik sehingga patut ditiru.

Dalam praktiknya, kiai di ponpes memiliki karakter sangat mulia.

Mereka selalu berusaha mengisi seluruh waktu mereka untuk berbuat kebaikan.

Bahkan dalam rutinitas harus memiliki nilai positif. Seorang kiai selalu menggunakan tangan kanan dalam menyantap makanan, selalu berusaha salat berjemaah lima waktu meski dalam keadaan sangat sulit.

Selain memberikan teladan baik (uswah hasanah) dalam kehidupan keseharian, kiai selalu memperhatikan perbuatan para santrinya.

Selain memberikan reward kepada santri yang melakukan kebaikan, seorang kiai tak segan memberikan ta’zir (punishment) kepada santri yang berperilaku negatif.

Seorang kiai tidak segan men-ta’zir santrinya dengan piket halaman pesantren selama satu minggu karena terbukti ghasab (menggunakan barang milik orang lain tanpa seizin pemilik dengan maksud mengembalikan kembali) sandal milik temannya.

Di ponpes, tak jarang seorang santri harus membaca Surah Yasin 11 kali karena satu kali tidak mengikuti salat jemaah.

Begitu seterusnya.

Di ponpes, kiai juga mengajarkan santrinya mandiri, sederhana, penuh perjuangan, serta tawakal (pasrah kepada Allah).

Dalam praktiknya, para santri (bahkan laki-laki) harus mencuci pakaian dan masak sendiri.

Para santri diajak hidup mandiri, juga diajarkan tawakal kepada Allah sehingga tidak mudah mengeluh.

Karena beberapa ajaran positif itu, banyak santri terbiasa belajar sungguh-sungguh dengan hati gembira (baca: tidak mengeluh) meski perut kosong dan fasilitas sederhana.

Ketika para santri yang notabene ialah generasi muda penerus bangsa sudah mendapat penguatan pendidikan karakter sebagaimana yang ada di ponpes itu, cita-cita Indonesia menjadi baldatun toyyibatun warabbun ghafur (negeri yang baik penuh dengan ampunan Tuhan) bukanlah fatamorgana.

Wallahu a’lam.

Mengenal lebih dekat istilah santri dan pesantren

Pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam (tafaqquh fiddin) dengan menekankan moral agama Islam sebagai pedoman hidup bermasyarakat sehari­ hari.

Secara etimologi, istilah pesantren berasal dari kata “santri” , yang dengan awalan pe- dan akhiran -an be rarti tempat tinggal para santri. Kata “santri” juga merupakan penggabungan antara suku kata sant (manusia baik) dan tra (suka menolong), sehingga kata pesantren dapat diartikan sebagai tempat mendidik manusia yang baik. Sementara, Dhofier menyebutkan bahwa menurut Profesor Johns, istilah “santri” berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru mengaji, sedang C C Berg berpendapat bahwa istilah tersebut berasal dari istilah shastri yang dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci Agama Hindu, atau seorang sarjana ahli kitab suci Agama Hindu. Kata shastri berasal dari kata shastra yang berarti buku-buku suci, buku-buku agama atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, istilah santri mempunyai pengertian seorang murid yang belajar buku-buku suci/ilmu-ilmu pengetahuan Agama Islam. Dengan demikian,pesantren dipahami sebagai tempat berlangsungnya interaksi guru­ murid, kyai-santri dalam intensitas yang relatif permanen dalam rangka transferisasi ilmu-ilmu keislaman.

Dalam hubungan dengan usaha pengembangan dan pembinaan yang dilakukan oleh Pemerintah (Departemen Agama), pengertian yang lazim dipergunakan untuk pesantren adalah sebagai berikut:

Pertama, pondok pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang pada umumnya pendidikan dan pengajaran tersebut diberikan dengan cara non-klasikal (sistem Bandongan dan Sorogan) dimana seorang kyai mengajar santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh ulama-ulama  besar sejak abad pertengahan, (Sistem Bandongan dan Sorongan) dimana seorang kyai mengajar santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang tertulis dalam bahasa Arab oleh ulama-ulama besar sejak abad pertengahan, sedang para santri biasanya tinggal dalam  pondok/asrama dalam lingkungan pesantren tersebut.

Kedua, pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang pada dasarnya sama dengan pondok pesantren tersebut diatas tetapi para santrinya tidak disediakan pondokan di kompleks pesantren, namun tinggal tersebar di seluruh penjuru desa sekeliling pesantren tersebut (Santri kalong), dimana cara dan metode pendidikan dan pengajaran agama Islam diberikan dengan sistem wetonan, para santri berduyun-duyun pada waktu-waktu tertentu (umpama tiap hari jum’at, ahad, selasa atau tiap-tiap waktu shalat dan sebagainya).

Ketiga,      pondok pesantren dewasa ini adalah gabungan antara sistem pondok dan pesantren yang memberikan pendidikan dan pengajaran agama Islam dengan sistem bandongan, sorogan atau wetonan dengan disediakan pondokan untuk para santri yang berasal dari jauh dan juga menerima santri kalong, yang dalam istilah pendidiÿÿn modernrtemenuhi kriteria pendidikan non formal serta menyelenggarakan juga pendidikan formal berbentuk madrasah dan bahkan sekolah umum dalam berbagai bentuk tingkatan dan aneka kejuruan sesuai dengan kebutuhan masyarakat masing-masing.

Pesantren atau pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang cukup unik karen memiliki elemen dan karakteristik yang berbeda dengan lembaga pendidikan Islam lainnya. Elemen-elemen Islam yang paling pokok, yaitu: pondok atau tempat tinggal para santri, masjid, kitab-kitab klasik, kyai dan santri. Kelima elemen inilah yang menjadi persyaratan terbentuknya sebuah pcsantren, dan masing-masing elemen tersebut saling terkait satu sama dengan lain untuk tercapainya tujuan pesantren , khususnya, dan tujuan pendidikan Islam, pada umumnya, yaitu membentuk pribadi muslim seutuhnya (insan kamil). Adapun yang dimaksud dengan pribadi muslim seutuhnya adalah pribadi ideal meliputi aspek individual dan sosial, aspek intelektual dan moral, serta aspek material dan spiritual. Sementara, karakteristik pesantren muncul sebagai implikasi dari penyelenggaraan pendidikan yang berlandaskan pada keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian (menolong diri sendiri dan sesama), ukhuwwah diniyyah dan islamiyyah dan kebebasan. Dalam pendidikan yang seperti itulah terjalin jiwa yang kuat, yang sangat menentukan falsafah hidup para santri.

Penyelenggaraan pendidikan pesantren berbentuk asrama yang merupakan komunitas tersendiri dibawah pimpinan kyai atau ulama, dibantu seorang atau beberapa ustadz (pengajar) yang hidup ditengah-tengah para santri dengan masjid atau surau sebagai pusat peribadatan, gedung-gedung sekolah atau ruang-ruang belajar sebagai pusat kegiatan belajar-mengajar serta pondok-pondok sebagai tempat tinggal para santri. Kegiatan pendidikannya pun diselenggarakan menurut aturan pesantren itu sendiri dan didasarkan atas prinsip keagamaaan. Selain itu, pendidikan dan pengajaran agaman Islam tersebut diberikan dengan metode khas yang hanya dimiliki oleh pesantren, yaitu;

Rundongan atau Wetonan adalah metode pengajaran dimana santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling kyai yang membacakan kitab tertentu, sementara santri menyimak kitab masing-masing dan membuat catatan-catatan. Disebut dengan istilah Wetonan, berasal dari kata wektu (istilah jawa untuk kata: waktu), karena pelajaran itu disampaikan pada waktu-waktu tertentu seperti sebelum atau sesudah shalat fardhu yang lima atau pada hari-hari tertentu.

Sorogan, adalah metode pengajaran individual, santri menghadap Kyai seorang demi seorang dengan membawa kitab yang dipelajarinya. Kyai membacakan pelajaran dari kitab tersebut kalimat demi kalimat, kemudian menerjemahkan dan menerangkan maksudnya. Santri menyimak dan mengesahkan (istilah jawa: ngesah), yaitu dengan memberi catatan pada kitabnya untuk menandai bahwa ilmu itu telah diberikan kyai. Adapun istilah sorogan tersebut berasal dari kata sorog (jawa) yang berarti menyodorkan, maksudnya santri menyodorkan kitabnya dihadapan kyai, sehingga terkadang santri itu sendiri yang membaca kitabnya dihadapan kyai, sedangkan kyai hanya menyimak dan memberikan koreksi bila ada kesalahan dari bacaan santri tersebut.

Beberapa pesantren dalam perkembangannya, disamping mempertahankan sistem tradisionalnya juga menggunakan sistem madrasi, baik sebagai basis pendidikannya ataupun yang bersifat tambahan.

Pesantren sebagai solusi pendidikan di Era Global

Pendidikan merupakan salah satu sistem untuk memajukan Negara dalam integritas dunia dan membangun moral suatu bangsa. Sebagai salah satu Negara berkembang yang sangat kental dengan pendidikan berbasis kepesantrenan, maka perlu upaya mengggugah seluruh anak bangsa dengan sistem kepesantrenan.  Dilihat dari beberapa latar belakang di Indonesia, banyak sisi miring pendidikan yang tidak memiliki basis kepesantrenan, seperti waktu, biaya, moral, anggaran pendidikan, sosial, pergaulan sesama, dan sebagainya.  Masing-masing faktor masih jauh di bawah angka kemajuan pendidikan di Indonesia yang rata rata memiliki 64 persen (Kompas, 2/10/2016). Sehingga perlu upaya maksimal agar pendidikan di Indonesia lebih tertata rapi dan efisien menuju peran anak bangsa yang lebih baik. Bagaimana caranya? Ya, Pesantren jawabannya.  Sistem pendidikan pesantren memiliki banyak peluang dan kesempatan yang lebih bagi anak bangsa karena kegiatan didalamnya banyak sekali hal-hal positif dibanding sekolah biasa pada umumnya. Berbagai aktivitas dan peraturan yang tersusun secara kompleks dan efisien menunjukkan bahwa sesungguhnya Indonesia dapat menjangkau nilai-nilai moral dan integritas yang memadai.  Seperti pengajian Al-Qur’an, pengajian kitab, ekstrakulikuler, sekolah berjenjang, kompetisi antar-madrasah, pertukaran pelajar, dan masih banyak lagi. Jika diisi dengan banyak kegiatan positif tersebut, waktu yang tersisa tidaklah sia-sia. Namun apakah semua ini dapat menggugah anak bangsa dengan waktu yang teramat sibuk 24 jam? Bukankah pendidikan di Indonesia juga masih banyak pembaharuan yang harus dilakukan? Data UNESCO menunjukkan bahwa di bidang pendidikan, pengembangan manusia Indonesia makin menurun dari tahun ke tahun. Indonesia menempati urutan ke-102 (1996 ), ke-99 (1997), ke-105 (1998 ), ke-109 (1999 ) dari 174 negara yang ada di dunia. Hingga pada tahun 2016 ini Indonesia berada pada urutan ke-125 dari 180 negara yang ada di dunia (Kompas, 2/10/2016).  Hal ini menunjukkan bahwa  Indonesia masih jauh di bawah angka keterbelakangan dan kemiskinan. Karena pada dasarnya pendidikan rendah berawal dari sisi ekonomi yang rendah pula. Sehingga faktor kemiskinan perlu diberantas terlebih dahulu. Namun bukan berarti dengan sistem pendidikan berbasis kepesantrenan, Indonesia perlu biaya yang cukup menggiur lidah karena kebanyakan pesantren tidak lebih dari ekonomi rata-rata rakyat Indonesia.  Hanya saja biaya keseharian pesantren yang memang membutuhkan sedikit uang saku bagi santrinya. Namun semua itu tergantung penggunaan masing-masing sesuai kebutuhan, karena tidak semua fasilitas dan biaya ditanggung oleh pesantren. Sehingga secara tidak langsung upaya hemat terlaksanakan oleh semua santri.  Bukti lain dari data yang dilaporkan oleh The World Economic Forum Swedia (2000), mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki daya saing yang terbilang rendah yaitu dengan hanya menempati urutan ke-37 dari 57 negara-negara yang telah disurvei. Bahkan Indonesia hanya berpredikat sebagai follower dalam hal pengembangan teknologi

Bukan sebagai pemimpin dari 53 negara yang ada di dunia (Kompas, 2/10/2016). Dampak yang dirasakan oleh Negara kita dalam mutu pendidikan adalah ketertinggalan dalam info-info dunia yang perlu dibahas, baik pendidikan formal maupum nonformal. Keterbelakangan anak bangsa perlu diatasi dengan menyuguhkan dan membawa mereka ke dalam suatu sistem yang memang efektif dan efisien.  Artinya, tidak terlalu banyak waktu kosong yang terbuang seperti pendidkan formal yang tidak berasrama sehingga pemantauan terhadap anak bangsa tidak terkontrol, walaupun sebagian telah dipantau oleh orangtua masing-masing. Hasilnya pun kurang maksimal dan memuaskan jika diihat dari dampaknya.  Kembali ke pendidikan kepesantrenan. Sudah terlihat jelas bahwa dampak dari pendidikan tanpa didasarkan pantauan-pantauan ekstra dari berbagai pihak orang tua, guru, maupun pengasuh pesantren yang memiliki keunggulan hingga internasional, tidaklah semuanya berdampak hebat.  Ilmu-ilmu yang didapat pun belum terbawa oleh semuanya, sehingga hanya fokus pada satu ilmu yaitu ilmu umum. Padahal jika ilmu umum dan agama diakumulasikan maka akan menghasilkan satu moral yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis di mana satu dan lainnya saling melengkapi. Alhasil Indonesia masih menjadi pupuk dalam standar pendidikan dunia.  Pesantren menyediakan fasilitas memadai dan lengkap seperti sekolah-sekolah pada umumnya. Namun bedanya, pesantren lebih mementingkan kegunaan yang benar-benar dibutuhkan daripada penggunaan yang maksimal. Maksudnya, dikhawatirkan santri terlena pada fasilitas yang ada, sehingga tidak hanya menggantungkan fasilitas sarana dan prasarana yang tersedia.  Di sisi lain, ekstrakurikuler seperti sekolah pada umumnya, seperti Karya Ilmiah Remaja (KIR), Tata Boga, Pencak Silat, Basket, Voli, Pramuka, dan tambahan-tambahan keterampilan lain seperti Hadroh, Qiroah, Nasyid, Kitab Kuning, Kaligrafi, dan berbagai keterampilan lainnya.  Kompetisi pun tidak kalah hebat dari lembaga pendidikan lainnya. Misalnya pertukaran pelajar Asia-Afrika, Pencanangan Budaya Nasional Menulis Mushaf Al-Qur’an, 30 Jus MHQ Internasional, Pospenas (Pekan Olahraga Santri antar Pondok Pesantren Nasional), dan lain-lain. Semua itu berdasarkan pencapain maksimal belajar dan mengaji  selama di pesantren.  Berdasarkan penjabaran diatas, dapat disimpulkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih butuh pembaharuan maksimal. Upaya-upaya diatas memungkinkan kita berlanjut kepada salah satu piihan supaya lebih maju atau Indonesia hanya akan menjadi pupuk bawang dalam diskusi Internasional ke depannya

Pesantren Kini dan Nanti

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang sudah teruji dalam jejak langkah perjalanan bangsa ini. Kontribusi kiai dan santri sangat jelas terekam pada narasi sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap kolonialisme. Memori heroik pejuang kemerdekaan yang berasal dari pesantren banyak terungkap di buku-buku sejarah. Resolusi Jihad NU 22 Oktober 1945 adalah bukti nyata seruan ulama-ulama pesantren yang terhimpun pada wakil-wakil daerah (konsul-konsul) Perhimpunan Nahdlatul Ulama seluruh Jawa-Madura untuk jihad fisabilillah melawan kedzaliman penjajah pada masa itu. Poin kedua dari Resolusi Jihad tersebut menyatakan “Supaya memerintahkan melanjutkan perjuangan bersifat sabilillah untuk tegaknya Negara Republik Indonesia Merdeka dan Agama Islam”. Seruan nyata yang kemudian membakar semangat ulama, santri, dan umat Islam untuk melanjutkan perjuangan melawan penjajah Belanda yang mencoba kembali menduduki Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.Pesantren pun sudah terbukti secara nyata memberikan pendidikan dan pencerahan bagi masyarakat. Melalui pesantren, Sumber Daya Manusia (SDM) yang kreatif, produktif, inovatif, toleran, religius, serta berwawasan global dikonstruksikan. Pesantren secara faktual telah menjadi salah satu motor perubahan bangsa ini melalui kegiatan pendidikannya. 

            Keunggulan pesantren ada pada proses pendidikan yang tidak hanya menitikberatkan pada pemahaman pengetahuan agama saja tetapi juga terkait pada pendisiplinan diri dan keterampilan hidup. Apalagi banyak pesantren sudah terintegrasi dengan pendidikan formal dari jenjang PAUD, pendidikan dasar, pendidikan menengah sampai pendidikan tinggi sehingga integrasi keilmuan agama dengan ilmu umum sudah sangat kuat. Pendidikan karakter yang beberapa tahun ini diupayakan terus menerus di berbagai satuan pendidikan sesungguhnya sudah lama diimplementasikan di pesantren. Pesantren punya banyak mekanisme untuk mendisiplinkan laku dan akhlak para santrinya. Pendidikan yang tak hanya berlangsung di ruang-ruang kelas. Seluruh aktivitas di pesantren adalah proses pendidikan. Pendidikan pesantren bersifat menyeluruh yaitu meliputi olah pikir, oleh hati, olah karsa, dan olah raga. Olah pikir melalui proses pengkajian tafsir Al-Qur’an, pengajian kitab-kitab kuning ulama-ulama termasyhur, diskusi keagamaan, pendidikan bahasa, dan pelatihan pidato. Olah hati melalui aktivitas peribadatan seperti tadarus Al-Qur’an, shalat berjamaah, shalat sunnah, dan berdzikir. Olah karsa melalui kebiasaan saling menghargai, kerjasama, toleran dengan sesama santri, kiai, ustadz/ustadzah, maupun masyarakat di lingkungan pesantren. Olah raga melalui kegiatan latihan pencak silat maupun aktivitas fisik lainnya.

            Berdasarkan data dari Kementerian Agama jumlah santri secara keseluruhan secara nasional adalah 3.759.198 santri yang terdiri dari 1.886.748 santri laki-laki (50,19%) dan 1.872.450 santri perempuan (49,81%). Tiga juta santri yang tersebar di seluruh Indonesia tersebut merupakan aset bangsa di masa depan. Mereka memiliki hak mendapat pendidikan yang baik dan berkualitas. Setelah lulus dari pesantren para santri memiliki potensi berkontribusi di tengah persaingan global.

 Alumni pesantren dan kontribusinya

            Alumni pesantren tak hanya berprofesi sebagai pendakwah, ustadz/ustadzah, guru agama, ataupun kiai. Mereka juga berprofesi sebagai pedagang, buruh, penulis, peneliti, arsitek, ekonom, dokter, wartawan, guru, politisi dan beragam profesi lainnya. Alumni pesantren pun tak selalu melanjutkan ke Al Azhar, UIN, STAIN, atau institut dan universitas keagamaan lainnya. Sudah sejak lama para santri lulusan pesantren melanjutkan ke UI, UGM, ITB, Unair, Unpad, ITS, UPI, UNJ, dan perguruan tinggi lainnya baik di Indonesia maupun di luar negeri. Para alumni tersebar di mana saja, bahu membahu berkontribusi untuk kemajuan bangsa. Beberapa tokoh bangsa yang memiliki kapasitas keilmuan dan ketokohan berasal dari pesantren. Gus Dur adalah salah satu potret lulusan pesantren yang berhasil menjadi Presiden Republik Indonesia. Ada juga Cak Nur, Cak Nun, KH Idham Chalid, Hidayat Nur Wahid, KH Hasyim Muzadi, Dien Syamsudin, Yudi Latief, maupun Menteri Agama saat ini Lukman Hakim Syaifudin yang sudah dikenal luas baik di Indonesia maupun dunia internasional. 

Ada juga generasi yang lebih muda yang merupakan lulusan pesantren seperti penulis novel best seller Ahmad Fuadi dan Habiburrahman El Shirazy juga penggagas KawalPemilu.org Ainun Najib yang merupakan seorang data scientist. Nama-nama tersebut membuktikan bahwa alumni pesantren tidak selalu bekerja di bidang keagamaan saja tetapi dan juga di bidang-bidang lainnya. Alumni pesantren tidak boleh gagap ketika berhadapan dengan permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat. Mereka dituntut aktif terlibat dalam penyelesaian masalah-masalah kemasyarakatan dan kebangsaan. Sayangnya makin lama pesantren seolah semakin jauh dari perhatian publik. Pesantren seringkali diidentikan dengan sesuatu yang tradisional dan ketinggalan zaman. Padahal banyak pesantren memberlakukan pendidikan modern tanpa meninggalkan tradisi intelektual kepesantrenan yang sudah lama dipegang. 

            Dalam tradisi pesantren istilah Almuhafadhotu ‘ala qadimisshaalih wal akhdzu bil jadidil ashlah menjadi pegangan. Term tersebut menjadi rujukan bagi pesantren untuk terus melestarikan serta menjaga nilai-nilai juga tradisi lama yang masih relevan dan mengambil nilai-nilai yang lebih baru demi kehidupan yang lebih baik. Pesantren sudah lebih siap dalam menghadapi perubahan zaman. Banyak pesantren yang terintegrasi dengan lembaga pendidikan formal. Adanya pendidikan formal dari mulai PAUD, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, sampai perguruan tinggi merupakan jawaban terhadap kemajuan zaman. 

            Selain mendapatkan bekal ilmu agama dan pembentukkan akhlak di pesantren para santri mendapatkan pengetahuan umum dan kemampuan leadership. Karakteristik dan model pendidikan pesantren semakin bervariasi. Penguasaan ilmu agama dan pembentukan akhlak yang menjadi fokus pendidikan di pesantren ditambah penguasaan teknologi, kemampuan bahasa asing, kapasitas kepemimpinan, juga kemampuan berwirausaha akan membuat para santri lulusan pesantren siap menghadapi persaingan global. 

Posisi pesantren yang sangat strategis dalam konstruksi pendidikan di Indonesia tentu harus tetap dijaga dan dikembangkan. Pesantren mestinya tak menjadi pendidikan alternatif bagi orang tua untuk pendidikan putra-putri mereka. Orang tua tak harus khawatir anak-anak mereka tak mendapatkan peluang pekerjaan yang baik di masa depan jika memasukan anak-anaknya ke pesantren. Beberapa waktu ini misalnya ada gerakan Ayo Mondok yang digagas oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI). Gerakan Ayo Mondok digagas agar semakin banyak orang tua yang memasukan putra dan putrinya ke pesantren. Pesantren, selain menjadi garda pencetak ulama-ulama yang mumpuni dan memiliki uswah hasanah (contoh baik) bagi umat juga diharapkan sebagai penjaga moral kebangsaan. Diharapkan lulusan pesantren semakin banyak yang terlibat aktif dalam gerakan kemasyarakatan dan kebangsaan untuk mengawal bangsa ini menjadi bangsa yang adil dan berdaulat.

  • Oleh: Anggi Afriansyah, Peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Alumni Pondok Pesantren Cipasung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat
  • Artikel ini dimuat di NU Online sebagai bagian dari Program Sindikasi Media Wahid Foundation

Santri, Pesantren dan Tantangan Zaman

Jika mendengar kata santri, apa yang muncul di benak Anda. Mungkin, mayoritas akan membayangkan figur anak muda mengenakan sarung, kemeja dan peci di kepala yang ditarik sedikit ke belakang hingga sebagian terlihat di atas jidat. Anda tidak sepenuhnya keliru. Memang mayoritas santri tampil seperti itu. Terutama di pondok-pondok pesantren tradisional.

Sebenarnya, sebutan santri tidak hanya dikenakan kepada mereka yang sedang menimba ilmu di pesantren. Santri lebih bermakna sebagai siapapun yang belajar dan mengikuti pemikiran seorang kyai atau pemimpin keagamaan.

Santri, seperti Muhammad Habib Ghulam Alrasyid, hidup dalam banyak batasan. Sejak bangun pagi, harus beribadah hingga waktu sekolah tiba. Sore hari, mereka disibukkan dengan berbagai kegiatan pondok, lalu mengaji dan belajar di malam hari. Waktu tidur relatif singkat, menu makanan terbatas, dan tinggal dalam ruangan besar berisi belasan santri.

“Tapi ini kan proses. Saya ingin belajar memaknai proses kehidupan ini sesuai dengan ajaran agama dan menjadi pribadi yang mandiri,” kata Habib yang belajar di Pesantren Ikhsanul Fikri, Magelang, Jawa Tengah.

Tapi, banyak santri tidak lagi bersarung dan hanya pandai ilmu agama. Zaki Mubarok Busro, salah satunya. Pria yang pernah belajar di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta ini bisa mewakili identitas santri yang lebih modern. Sekali-kali ia mengenakan sarung dan membaca kitab. Tetapi ia terlihat meyakinkan ketika tampil dengan jas dan berbicara di forum-forum internasional.

Zaki adalah calon doktor yang kini sedang menempuh pendidikan di Universitas Wollongong, Australia. Ahli hukum, yang bekerja di Kementerian Kelautan dan Perikanan ini juga aktif menulis di media massa dengan artikel berbahasa Inggris.

“Pesantren adalah tempat membangun karakter. Saya mendapatkan banyak nilai humanis disamping ilmu agama. Juga belajar egaliter, persamaan nilai setiap orang di depan Tuhan dan persamaan derajat antara sesama manusia. Kami terbiasa makan bersama dalam satu nampan dan tidur beralasan tikar di ruangan yang sempit tanpa memandang status sosial,” kata Zaki.

Bagi Zaki, pendidikan santri sangat berarti dalam karir. Dia mengatakan, dalam birokrasi,komunikasi sering dipengaruhi jabatan atau posisi. Pada kegiatan berskala international, dia juga sering menghadapi delegasi negara lain yang berbeda sudut pandang.

Menurut Zaki, egalitarianisme yang dia peroleh selama di pesantren membuatnya memandang seseorang berdasarkan tanggung jawab, tidak berdasarkan strata sosial atau posisi.

“Kita tidak memandang rendah rekan kerja yang di bawah. Sebaliknya, dalam level internasional, egalitarianism membuat saya percaya diri untuk berkomunikasi atau bernegosiasi dengan pihak lain karena saya memegang prinsip bahwa semua manusia pada prinsipnya sama,” tambah Zaki.

Kyai Mohamad Khoeron Marzuki, pendiri Pondok Pesantren Al Mumtaz di Gunungkidul, Yogyakarta menyadari besarnya tantangan santri dan pesantren saat ini. Pesantren sudah lama berperan dalam mengurangi kemiskinan ilmu di masyarakat. Saat ini, tantangannya adalah berperan lebih besar dalam mengurangi kemiskinan ekonomi. Santri tidak cukup belajar ilmu agama, tetapi juga harus memupuk jiwa wirausaha. Tidak mengherankan, jika di pondok pesantren ini mencangkul adalah salah satu pelajaran wajib.

“Kami konsisten, sejak masuk ke pesantren, pelajaran dasarnya adalah mencangkul. Itu dalam rangka menumbuhkan etos kerja. Nanti setelah etos kerjanya terbentuk, kami akan memberikan keterampilan. Di Al Mumtaz keterampilan yang diberikan itu bermacam-macam. Anak-anak kita latih,kita siapkan, keluar dari pesantren menjadi pengusaha walaupun kecil-kecilan. Tidak peduli anak orang kaya, orang miskin, ada juga anak kyai atau dosen, ke sini kita beritahu bahwa pelajaran awalnya adalah mencangkul. Kalau tidak boleh mencangkul yang tidak usah masuk ke sini,” kata Mohamad Khoeron Marzuki.

Bagi santri Al Mumtaz, mencangkul tidak bisa diartikan hanya sebagai kegiatan mengolah tanah. Menurut Kyai Khoeron, ini adalah proses pembentukan etos kerja. Dia berharap santri yang sudah selesai belajar nanti memiliki keahlian wirausaha yang diminati. Karena itu, selama di pondok selain belajar agama, mereka juga membuka usaha pembuatan roti, minuman kemasan, membatik, makanan ringan hingga pembuatan deterjen.

Santri kadang juga predikat yang diwariskan, misalnya bagi Sudaryono yang sejak tiga bulan lalu mengirim anaknya ke pesantren. Dia aktivis di Nahdlatul Ulama dan percaya bahwa pesantren penting dalam pembentukan karakter. Tanpa paksaan, anaknya yang memperoleh nilai tinggi dalam ujian akhir sekolah dasar, memilih menjadi santri. Padahal dia berkesempatan memilih sekolah berkualitas.

“Saya santri, itu yang pertama. Kedua, anak saya sejak kelas 1 SD memang sudah ingin mondok. Dari sisi akademik dia juara dalam ujian nasional. Nilainya termasuk yang tertinggi. Jadi, bukan memilih masuk pesantren karena afkiran, anak saya mau masuk SMP favorit mana saja memungkinkan karena nilainya memang bisa. Tetapi dia ingin masuk pesantren memang karena pilihannya sendiri,” kata Sudaryono.

Pesantren memang kuat dalam pembentukan karakter. Pantauan selama 24 jam oleh para guru diyakini menjadi salah satu jawaban untuk dampak negatif dunia modern. Orang tua mencari kawasan tanpa telepon selular, minim media sosial, namun kaya dengan nilai-nilai kebersamaan, dan menemukan pesantren sebagai jawabannya.

Alvin Setiawan, ketika kanak-kanak pernah menimba ilmu di sebuahpesantren di Magelang, Jawa Tengah. Kehidupan pesantren memberinya kemampuan bersosialisasi sehingga menunjang karirnya sebagai manajer di sebuah perusahaan suku cadang di Cikampek, Jawa Barat.

“Pesantren membuat saya lebih bisa mandiri. Karena hidup sebagai santri ibaratnya kan mengurus semua sendirian. Kita juga cenderung memandang semua orang sama, tidak takut pada jabatan dan sebagainya. Pembentukan karakter ini yang penting, dan karena itu saya juga ingin anak saya jadi santri,” kata Alvin.

Zaki Mubarok, meyakini pesantren menghadapi tantangan ke depan karena itu santri perlu membekali diri dengan kemampuan non-agama. Menurutnya, pesantren perlu menerapkan kurikulum yang menghasilkan santri kultur hibrida. Konsep ini mendorong santri berperan lebih besar dalam pemerintahan ataupun sektor formal lain. [ns/ab]