Pesantren identik dengan kegiatan rutin. Mulai belajar alquran, mengaji dan belajar tafsir-tafsir kitab. Namun untuk pesantren Al-Mizan, ternyata santri tidak hanya belajar mengenai religiusitas. Tapi persoalan hidup bersama dengan komunitas lain, termasuk agama lain juga perlu diperkenalkan sejak dini. Maraknya radikalisasi yang meracuni anak-anak muda, telah menjadi fokus utama pendidikan pesantren yang berada di Ciboneng, Majalengka. Diantara pintu-pintu pesantren yang terbuka, setiap orang bisa leluasa berkunjung dan bertemu. Bahkan beberapa saat lalu kunjungan dari lintas agama. Mereka baru saja menyelanggarakan 3 hari pelatihan Pendidikan Seni Nusantara PSN. Seluruh peserta tim dari Tarutung beragama Kristen dan dipimpin oleh pendeta. Mereka berbaur dengan para santri. Mika Sitohang, salah satu siswa dari Tarutung yang ikut dalam pelatihan. Kali pertama mengetahui harus mengikuti pelatihan di sebuah pesantren, Mika terkejut.
Pentas Lagu Batak“Pertama kayak bagaimana gitu, gimana nanti ya. Soalnya bergaul sama Muslim kan jarang, di Tarutung, masih jarang yang Muslim. Jadi itu penasaran kali, bagaimana cara bergaul dengan orang ini. Tapi setelah sampai di sini, kami salut, mereka juga baik, dan kalau ketemu di jalan pasti disapa.” Pendeta dari wilayah Cirebon juga sudah terbiasa melintasi pintu pesntren, bersapa dengan para santri yang berkerudung. Kemduan berbaur dalam keramahan bersama. Semuanya berjalan seperti biasa, tidak ada kecanggungan dari santri dan penghuni pesantren. Menurut Maman Imanulhaq, situasi seperti ini diciptakan untuk saling mengenal, mengikis curiga dan mengenalkan perbedaan sejak dini. “Para santri harus mengenal mereka yang berbeda keyakinan karena mereka juga bagian dari Indonesia”. Kata Maman. “Iya, misalnya misalnya saya memiliki pengajian Akar Jati, kalau mau ngomong tentang cerita Yesus misalnya biarkan pendeta itu yang ngobrol. Dan itu penting. Karena saya juga ngomong tentang tentang tradisi-tradisi Jawa dengan gereja di Jawa.” Kata Maman, siswa atau santrinya juga pernah mendapat pengajar beragama Budha untuk pelajaran bahasa Mandarin. Beberapa pendeta juga akan mengajari para santri tentang manajemen pertanian. Salah satu tamu siang itu Andreas Budi Hartono, jemaat GKI Rahmani Cirebon. Menuturkan “Saya mengucap syukur sekali, sebelum saya mengenal Al Mizan ini, pandangan saya itu, namanya pondok pesantren, terdiri santri-santri yang kita tidak bisa masuk, apalagi secara kekeluargaan seperti ini. Baru pertama kali saya ke sini, luar biasa sungguh Tuhan membekati pesantren ini.“ Klenteng Hok Teng Jeng Sin di Majalengka juga menjalin kerjasama dengan Al Mizan menyebarkan toleransi pluraslisme dan keberagaman, dan tentu saja kemanusian dan lingkungan. Pengurus Kelenteng Saleh Sugiyo, “Sangat silaturahmi di sini, walaupun berbeda agama, kelenteng vihara dan gereja sering datang. Ulang tahun klenteng diundang gereja diundang. Doa malam tahun baru Imlek, Al Mizan diundang dan datang.” Maman menegaskan bahwa pemahaman tentang toleransi beragama dan antar sesama, menjadi salah satu pelajaran utama untuk para santri di pesantren ini. Tetapi banyak tentangan yang dihadapi pesantren saat mengembangkan prinsip-prinsip toleransi ini. “Kita tidak akan melawan dengan cara-cara seperti yang mereka lakukan tetapi lebih menekankan prinsip-prinsip silaturahmi. Lalu silatul fikri, beradu gagasan diskusi dan sebagainya, ada yang menerima, ada yang tidak. Yang terakhir yang menarik, bagaimana gagasan tadi kita kita buktikan lewat kerja-kerja nyata, misalnya pengobatan gratis di pesantren yang menolak kita. Acara bakti sosial lintas iman, di pemukiman yang tidak suka sama kita. Lama kelamaan mereka tahu yang kita lakukan berdampak positif.“ Belajar budaya beragam suku merupakan salah satu cara memahami keberagaman. Hari itu para santri belajar tentang aksara batak. Pengajar di pesantren Ade Duriawan mengatakan, pemahaman toleransi dan keberagaman disampaikan secara bertahap dan alamiah. “Kalau sehari-hari kita memperkenalkan mereka misalnya ketika ada yang datang dari lintas agama. Itu secara tidak langsung membiasakan kepada mereka. Terus terang ini proses, bukan doktrin ke mereka, biarkan mereka tumbuh karena kesadaran. Biarkan mereka melihat realitas.” Direktur Fahmina, sebuah lembaga lokal pemerhati demokrasi, Marzuki Wahid, mengatakan pesantren Al Mizan mampu mengakomodir tradisi-tradisi baru yang dibutuhkan untuk menjaga kerukunan dan melawan radikalisme. “Al Mizan bukan sekadar memelihara tradisi lama, klasik yang baik, tapi mengambil tradisi baru yang lebih baik seperti demokrasi, pluralisme, HAM, gender, dan segala wacana lain yang hadir pada hari ini diambil oleh Al Mizan. Starting poin yang bagus. Dan soal pengembangan butuh waktu, karena membangun peradaban yang besar apalagi dimulai dari pesantren tidak bisa dengan cara yang instan.”Kata Maman Cara-cara Al Mizan membuka diri terus menumbuhkan daya tarik berbagai pihak untuk memahami Islam yang sesungguhnya, Islam sebagai agama toleran. Gereja-gereja di wilayah Cirebon misalnya sudah menyiapkan kader-kader mudanya untuk menimba ilmu dan menggelar diskusi di Al Mizan. Program ini menurut salah satu pendeta GKI Rahmani Cirebon, Sutanto Tedi, efektif menghapus kecurigaan-kecurigaan dan persepsi yang salah antar agama. “Pemuda-pemuda dan remaja, akan live-in di sana, kita akan berdiskusi dengan para santri di Al Mizan, tujuannya membuka pemahaman. Kita bisa berkerjasama bukan pada soal agama, seperti Kang Maman bilang jadilah Muslim yang taat, orang Kristen yang taat. Tapi ketika bersama kita berbicara soal kemanusian.” Semakin malam, acara perpisahan antara tim kesenian dari Tarutung Tapanuli Utara dan para santri makin meriah. Para santri mempersembahkan atraksi beladiri Bastok atau Barisan Takut Alloh dan tari Serampang Dua Belas. Para tamu, tak mau ketinggalan, sebuah persembahan khas Batak, tari pergaulan Tor-Tor ditampilkan. Para santri berhambur ke tengah lapang, turut berlengak-lenggok mengikuti musik dinamis dari tanah Batak. Salam dan Sholawat Nabi saat menutup acara, tak hanya dituturkan para santri. Anak-anak Tarutung berusaha mengikuti meski terbata dan tak jelas. Di Pesantren Al Mizan, malam itu, budaya Sunda dan Batak, para santri Muslim dan penganut Nasrani, menyatu menyampaikan salam damai, untuk semua umat. Al-Mizan terus berproses seiring waktu. Anak-anak tumbuh dewasa dan akan kembali kepada keluarga dan masyarakat. Semoga pendidikan yang mereka peroleh di pesantren tetap melekat di dalam jiwa mereka, membawa benih-benih kedamaian di setiap langkah